Contextual
Teaching and Learning
A.
Pengertian
Contextual
Teaching and Learning
(CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa
untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks
kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga
siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk
mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL
disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
CTL dikembangkan oleh The
Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang
melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga yang
bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya
adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di
Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui
Direktorat SLTP Depdiknas.
B.
Rasional
Dalam
Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih
memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan
dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar
melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat
fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi
oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan
perkembangan jaman.
C.
Pemikiran
Tentang Belajar
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi
pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu.
Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan
serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya.
Siswa sebagai
pembelajar; tugas guru
mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan
pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar.
Pentingnya
lingkungan belajar;
siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
D.
Hakekat
Komponen
pembelajaran yang efektif meliputi:
1.
Konstruktivisme
(constructivism)
Kontruktivisme
merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya
sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar
mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang
dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya.
2.
Menemukan
(Inquiry)
Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus
yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning),
mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering),
penyimpulan (conclusion).
3.
Bertanya
(Questioning)
Pengetahuan
yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan
strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna
untuk :
a)
menggali informasi,
b)
menggali pemahaman siswa,
c)
membangkitkan respon kepada siswa,
d)
mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,
e)
mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa,
f)
memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru,
g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa,
untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4.
Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Konsep
masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil
kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman,
antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi
apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam
komunikasi pembelajaran saling belajar.
5.
Pemodelan
(Modeling)
Pemodelan
pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru
menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar
siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya
model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari
luar.
6.
Refleksi
(Reflection)
Refleksi
merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau
berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya
dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi
yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
7.
Penilaian
yang sebenarnya ( Authentic Assessment)
Penialaian adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai
perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan
belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang
relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.
E.
Penerapan
CTL dalam pembelajaran
Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru.
Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat
keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar
dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran.
Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang
betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Daftar Pustaka
http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php
0 komentar:
Posting Komentar